Drama dibalik kelahiran Shiraz

Si kecil Shiraz lagi bobo manis di boxnya, ga kerasa skg Shiraz tepat 1 minggu, semakin hari semakin keliatan ngerti saat diajak berinteraksi.  Kalau liat Shiraz skg, rasanya harus banyak-banyak bersyukur sama Allah, karena doa bunda dan ayah untuk melengkapi keluarga kecil kami dengan keturunan sudah dikabulkan, tinggal ke depannya kami harus berusaha untuk mendidik Shiraz dengan baik, sehingga Shiraz bisa menjadi anak yang sholeh, berbudi baik, berbakti pada orang tua dan keluarga, serta menjadi orang yang berguna.

Sedikit mengenang proses kelahiran Shiraz ahh..  Hari perkiraan lahir (HPL) Shiraz menurut perhitungan dokter adalah tanggal 24 Juni 2010 tapat di 40W.  Tapi hingga saat itu, bunda masih belum juga mengalami his/kontraksi/mules” yang biasanya jadi tanda-tanda mau melahirkan.  Tanda-tanda mau melahirkan pertama kali datang saat  bunda selesai ikut senam hamil di 40w2d, ada flek samar di underwear saat bunda pipis tapi karena belum mules bunda tetep cuek jalan2 ke supermarket sama ayah.  Malamnya bunda mulai merasakan mulas, tapi intervalnya masih belum teratur dan masih bisa dibawa bobo.  Besok paginya tanggal 27 juni, mulas dan fleknya hilang lagi, tapi sepulang jalan pagi keliling kompleks ga tau kenapa bunda tiba-tiba aja kaligata, sekujur badan bentol” dan gatal2 luar biasa (kayaknya ga ada di teori tanda2 menjelang persalinan deh kalo yang ini).  Menjelang sholat isya, flek itu datang lagi, bunda yang siap-siap nonton piala dunia sama ayah dan kakek mulai merasa mulasnya datang lagi, dan kali ini teratur, mulai 20 menit sekali, 15 menit sekali sampai 10 menit sekali, alhasil sepanjang pertandingan Jerman vs Inggris, bunda ga bisa nonton dengan tenang, malahan bolak balik jalan-jalan dari ruang tv ke dapur (dokter bilang, kalo mules mau melahirkan yang asli ga bisa hilang meski kita beraktivitas, tapi jalan-jalan bagus biar posisi bayi masuk ke jalan lahir).  Selesai pertandingan bola, ayah dan bunda masuk ke kamar, tapi kali ini ga bobo, feeling bunda sebentar lagi bunda akan segera melahirkan, kasih tau ayah dan kita berdua sibuk nyiapin dan ngecek ulang perlengkapan yang mau dibawa ke rumah sakit terutama kamera.  Kontraksinya udah mulai 5 menit sekali dan bunda bener2 ga bisa bobo, untunglah piala dunia masih ada pertandingan Argentina vs Meksiko jam 1.30 dini hari, jadi ayah juga ga terlalu bosen nemenin bunda yang sibuk jalan2 dan bolak balik ke kamar mandi.  Selesai bola, ayah kayaknya ngantuk dan sempet bobo dulu sampai sholat shubuh.  Tadinya bunda pengen langsung ke rumah sakit aja karena interval  kontraksinya mulai rapat, tapi karena masih dini hari sedangkan kunci mobil dipegang kakek, kita putuskan habis shubuh aja.

Tanggal 28 Juni 2010 jam 6 pagi, kita berangkat ke Hermina Sukabumi yang sebenernya jaraknya cuma 10 menit jalan kaki, tapi karena bawa tas untuk keperluan bersalin, akhirnya pinjem mobil, keluarga janji nyusul kalo memang langsung dirawat.  Di Hermina langsung minta ketemu bidan jaga di kamar bersalin, lucky me! bidan jaga hari itu bidan Desi, instruktur senam hamil favorit bunda, jadi rasanya lebih secure.  Langsung disambut, dipersilakan masuk kamar bersalin dan ganti baju.  Langsung diperiksa dalam setelah bunda ceritain kronologis mulesnya yang sampai bikin ga bisa tidur semalaman, ternyata udah bukaan 4, bidan Desi bilang, normalnya untuk kelahiran anak pertama bukaan akan lengkap sekitar 6-8 jam lagi. Yippie, paling dzuhur udah lahir si dede, langsung kabari keluarga, dan ayah izin ga masuk kantor.  Bunda langsung sibuk praktekin teori senam hamil untuk mengurangi rasa mulas, yak inhale… exhale.. tarik nafas.. buang nafas..

Nunggu bukaan lengkap lama banget sih

Dan.. ga lupa jalan-jalan terus biar proses bukaannya cepet, foto ini diambil jam 13.30 dan bukaan masih 4 blom nambah sama sekali

jalan-jalan di koridor kamar bersalin berharap bukaan nambah lagi

Akhirnya pas periksa dalam lagi jam 4 sore, bukaannya nambah 1 cm, setelah berulang kali dan berbagai metode pelunak dinding rahim diinjeksi untuk mempercepat proses bukaan.  Pas sore semakin banyak yang nyempetin nengok buat ngasih support ada Mertua, Ateu (tante), my bestfriend Siska,  adik ipar yang mo balik ke Bandung sama pacarnya.  Di tahap ini bunda udah ga bisa jalan lagi, cuma bisa berbaring dan duduk, pendarahan akibat sering periksa dalam udah mulai berceceran di sprei, tetep inhale dan exhale sambil sesekali meringis, no, i won’t cry.. sakit melahirkan seperti ini yang dulu bunda dambakan saat belum hamil, rasanya apapun akan bunda lakukan agar bisa merasakan kesempurnaan sebagai seorang wanita.

Menjelang isya, bukaan udah masuk bukaan 6, dan bidan udah bisa menyentuh kepala dede.. tapi proses melahirkan belum bisa berlangsung selama bukaan belum lengkap.  Secara periodik detak jantung dede di monitor dengan CTG, tapi hasilnya mules semakin bertambah, detak jantung janin semakin tidak teratur dan gerakannya semakin lemah, sepertinya dede stress karena sudah masuk jalan lahir tapi ga nemu pintu untuk keluar.  Mulai cemas, mulai pasrah dan kontraksi semakin menggila, ga ada posisi apapun yang bisa meringankan rasa mules itu.  Keluarga yang nunggu udah mulai jarang masuk ke kamar bersalin, bunda tau mereka juga panik dan frustasi, karena udah lebih dr 12 jam nunggu di rumah sakit, cuma ayah yang selalu ada di samping bunda.  Poor ayah, sepertinya merasa tidak berdaya dan sedikit feeling guilty karena ga bisa meringankan beban istrinya.  Tengah malam, kembali periksa dalam, dan dengan wajah kecewa bidan bilang masih bertahan di bukaan 6.  Kondisi fisik bunda makin lemah, kontraksi ditambah begadang 2 malam berturut2, pihak keluarga minta dokter segera datang dan mengambil tindakan apapun yang terbaik demi keselamatan ibu dan bayinya.  Saat itu bunda sadar, cita-cita melahirkan normal semakin jauh untuk terwujud.

Jam 2 pagi dokter datang, tapi harus membantu persalinan pasien kamar sebelah (NORMAL, hikss… walau pake acara jerit-jerit dan nangis meraung-raung).  Sebelumnya dokter Ratna sempet nengokin bunda dan menawarkan beberapa opsi, mau di induksi, dengan masih ada kemungkinan gagal dan gawat janin yang jika terjadi akan berujung di meja operasi juga atau langsung operasi/Sectio Ceasarean.  Bismillah, dengan mempertimangkan keselamatan dede, dan membayangkan kontraksi yang udah luar biasa ini mau ditambah lagi pake induksi, akhirnya bunda dan ayah memutuskan langsung operasi.  Like ayah said, bunda udah melakukan yang terbaik semampu bunda, sekarang prioritasnya adalah keselamatan dede.

Jam 3 tepat bunda masuk ke kamar operasi, yang bunda rasakan, ngerasa kedinginan karena AC dan faktor anestesi, ngerasa di pegang-pegang daerah perut, ditekan2 (kerasa banget), sampe akhirnya ada tangisan bayi yang memutus obrolan para dokter tentang skor piala dunia (brazil vs portugal 3:0, oh yeah, makasih dok, meski di ruang operasi tetep update skor piala dumia).  Berusaha intip2 tapi cuma liat sekilas si dede dibersihin, dan dokter bilang selamat bu, bayinya laki-laki dan BESAR pantesan ga bisa keluar.  Terus si dede didekatkan, bunda cium kepalanya, dan itulah air mata pertama yang mengalir selama cerita ini berlangsung (shit, skg sambil ngetik jg mewek kalo inget).  Dede langsung dibawa keluar untuk di adzankan oleh ayah, sementara bunda harus menjalani 30 menit berikutnya dalam acara jahit menjahit dan obras mengobras.

Setelah selesai bunda dipindahkan ke kamar obervasi setelah operasi disambut ayah dan keluarga yang menyelamati, katanya si dede gendut dan lucu.  Ayah bilang, waktu diadzani, dede yang lagi nangis langsung berhenti dan melihat ayah.  Kemudian suster datang bawa dede untuk IMD (inisiasi menyusu dini), agak jadi2an sih sebenernya, karena dede langsung ditaro deket payudara bunda, tapi gapapa lah secara bunda lagi mengigil akut, daripada dede juga ikut kedinginan.  Bener, bukan mimpi, akhirnya aku jadi seorang bunda, alhamdulillah.

newborn shiraz, badannya menuh-menuhin inkubator

newborn shiraz

dan apakabar sang bunda pasca operasi ?????????

DEKILLLLLLLLLL

4 Comments (+add yours?)

  1. Putri
    Jul 06, 2010 @ 08:56:36

    wa…komplit dweh ceritanya …..
    shiraznya GENDUT bgt……..

    sehat ya nak,…cepet gede…biar bisa maen ama kakak Daffa…

    Reply

  2. top news
    Aug 27, 2010 @ 02:36:10

    selamat ya bu sy jg lagi deg2an nih nungguin istri mau melahirkan

    Reply

  3. christiene
    Dec 12, 2010 @ 02:27:39

    Senangnya bisa melahirkan bayi besar, anak2 saya semuanya lahir di bawah 3kg.sekarang sy sedang berdebar2 menunggu anak ke 3.sejak tinggal di palabuhan ratu jauh dari keluarga.2 anak yg sblmnya lahir di hermina jatinegara dengan dokter zaenuri.rencana sy mau melahirkan di hermina sukabumi tapi suami minta di kartika…bingung gmana meyakinkan dia.kiss utk shiraz ya bu…

    Reply

    • viena sugiawijaya
      Dec 17, 2010 @ 14:28:20

      Halo mom,
      selamat menanti kelahiran anak ke 3 ya..
      menurut saya sih di kartika fasilitasnya sama bagusnya dengan di Hermina
      kalau dokternya sudah cocok maka harusnya ga ada masalah kan ya?
      Saran saya sebaiknya melahirkan dengan dokter biasa kita kontrol, yg lebih tau riwayat kita
      semoga lancar ya..
      ps: iya shiraz lahirnya besar, krn banyak fktor, pertama saya jg bigsize, kedua saya ga mabok waktu hamil muda, jd makan apa aja enak, ke tiga saya bandel, disuruh jgn makan bakso menjelang bulannya melahirkan tetep aja masih pengen hehe

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: