The day she went away…

Pernahkah teman teman, sedang menghitung hari untuk mendapatkan suatu kebahagiaan namun ternyata ketika hari itu tiba nyatanya hanya air mata dan kesedihan yang kita dapatkan?

Aku pernah..

Akhir Februari lalu, adalah bulan yang paling kutunggu-tunggu selama satu tahun terakhir karena merupakan masa Oriflame Director Seminar 2013 dimana aku adalah salah satu qualifier yang mendapatkan akomodasi gratis menginap 5 hari 4 malam di hotel berbintang kawasan Nusa Dua Bali.  Yang membuat lebih excited lagi adalah karena tahun ini pertama kalinya aku mendapatkan kehormatan mengikuti Gala Dinner atas pencapaian prestasiku tahun lalu yang mencapai titel Director.  Berbagai macam persiapan, mulai dari shopping dresscode dan aksesories  packing koper yang akan dibawa, print tiket dan jadwal kegiatan selama di Bali sudah disiapkan jauh jauh hari.  Hingga tiba saatnya, Jumat 22 Februari 2013 jam 05.00 AM aku sudah berada di pool bis AC MGI Sukabumi-Bandung bersama partner sekaligus downlineku buMira yang baru akan meningikuti Director Seminar ini untuk kali pertama.  Belum sampai 5 menit kami duduk di kursi bis, ponselku berbunyi dari Papa yang sedang menunggui Mama yang dirawat inap sejak hari Selasa, 19 Februari 2013 di RS Bunut karena merasa pusing dan mual yang hebat.

Papa : “Teh, kapan mau ke Bali nya? ”

Aku : “Sekarang pap, ini udah di pool MGI udah naik bis”

Papa : “Teteh jangan dulu berangkat ya, pagi ini Papa bangunin Mama sudah ngga merespon, Teteh segera ke Bunut aja”

Dengan perasaan kalut, aku segera turun lagi dari bis, memberikan penjelasan sekenanya pada partnerku dan minta tolong izinkan aku ke managemen dan upline2ku yang seharusnya kutemui disana. Kuminta kondektur mengelaurkan lagi koperku dari bagasi, menyeretnya dalam keadaan masih sepi dan gelap gulita ke angkutan umum yang membawaku ke RS tempat Mama dirawat. Setibanya disana, kulihat perawat sedang memeriksa tensinya,Mama seperti tertidur namun mengorok cukup keras, padahal Mama tidak pernah tidur seperti itu.  Papa menceritakan kondisi mama semalam, yang tadinya dirasa sudah mulai membaik karena tidak lagi memuntahkan makanannya, dan terlihat tidur dengan lelap dan tenangnya, tidak seperti 2 malam sebelumnya yang sulit tidur karena sakit kepala yang hebat.  Namun ketika Papa bangun untuk sholat Shubuh ternyata Mama tidak terbangun lagi.  Ya Rabb, belum pernah aku melihat Mama terkulai seperti ini tidak memberikan respon apapun padaku, pada Papa, atau pada perawat yang mulai menempelkan selang oksigen dihidungnya.  Aku dan Papa mulai menangis, mulai membacakan kalimat kalimat Allah di telinga mama.  Papa bertanya apakah sebaiknya menghubungi kedua adikku Viera di Bandung dan Vieta di Bogor yang rencananya baru akan pulang besok, aku bilang sebaiknya diberi tahu saja untuk segera pulang tapi jangan dulu diberi tahu kondisi Mama yang sesungguhnya agar tidak panik di perjalanan. papa mulai menelfon adik2, orang tua Mama dan saudara2 kandungnya, kelaurga besar papa dan rekan2nya.  Dana 30 menit berikutnya orang2 orang berdatangan, semua tidak bisa menahan kesedihan dan kekagetannya atas kondisi mama yang mendadak hilang kesadaran.  Dokter jaga dan perawat mulai memasangkan monitor detak jantung dan sesekali menyedot dahak dari tenggorokan mama dengan selang, menimbulkan suara yang sampai saat ini masih membuatku trauma.

Perawat memberiku penjelasan sederhana mengenai cara membaca monitor detak jantung dan menjelaskan jika kamar di ICU sudah ada yang kosong maka mama akan dipindahkan kesana untuk mendapatkan pengawasan lebih intensif dan membatasi jumlah pengunjung yang semakin lama memang semakin banyak.  Sekitar jam 9 akhirnya Mama dipindahkan ke ICU, sebelumnya dokter spesialisasi syaraf menjelaskan padaku dan Papa, bahwa melihat kondisi Mama skg, secara medis sulit sekali untuk kembali normal dan sebaiknya mulai mengikhlaskan dari sekarang meski tidak tertutup kemungkinan, jika Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.  Aku tidak tahu lagi sebesar apa perasaan yang membuncah di dada saat itu, lebih sedih lagi membayangkan 2 adikku yang masih di perjalanan yang sama sekali tidak tahu kondisi mama sekarang, mereka terakhir kali berinteraksi dengan mama 2-3 minggu sebelumnya saat pulang ke Sukabumi.

Ruang tunggu ICU hari Jumat itu dipenuhi oleh penjenguk mama yang datang silih berganti bahkan hingga malam harinya.  Ucapan keprihatinan datang silih berganti, berusaha menguatkanku untuk mengikhlaskan Mama seandainya kemungkinan yang terburuk terjadi.  Menjelang sholat Jumat, adik-adikku datang dan menerima kabar yang bagi mereka seperti petir di siang hari, menanyakan kepada Papa, kenapa baru diberitahukan kondisi Mama setelah koma seperti ini.  Hari sebelumnya saat Mama masih bisa berkomunikasi, Papa memang sempat bertanya pada Mama, perlukah menyuruh adik-adikku pulang, saat itu jawaban Mama “Tidak usah, nanti khawatir, lagipula Sabtu mereka akan pulang karena hari Minggunya pilkada walikota dan gubernur”.  Tidak siap dengan kondisi yang begitu mengejutkan ini, kami bertiga anak2nya hanya bisa bergantian membacakan doa, dzikir dan mengaji di ICU. Sementara papa, hampir tidak masuk ke ICU lagi karena sibuk menerima tamu yang datang silih berganti.

Hingga larut malam baru ruang tunggu ICU ditutup, keluargapun tidak boleh tidur disitu.  Akhirnya Papa dan Vieta adikku yang bungsu tidur di mobil kijang Papa, sedangkan aku dan Viera tidur di Visto Silverku, Om-omku berjaga di koridor dekat pintu ICU jika ada pemeritahuan mendadak.  Jam 3.30 dini hari, aku memabngunkan Viera mengajaknya shalat Tahajud ke mesjid, namun ternyata pintu mesjid dikunci untuk menghindari penunggu pasien tidur di mesjid.  Kamipun menunggu di sofa Paviliun Seruni, tempat Mama dirawat inap sebelum masuk ICU.  Saat adzan Shubuh dari mesjid berkumandang, turun hujan sehingga akhirnya kami mencari mushola terdekat untuk sholat Shubuh, setelah itu kami masuk ke ruang tunggu ICU lagi, kutanyakan pada Om Iwan adik Papa, apakah papa sudah bangun katanya masih dimobil, aku minta Om Iwan membangunkan Papa dan Vieta.  Akupun mencoba masuk ke ICU tapi masih terkunci sehingga aku hanya bisa melihat Mama dari jauh, ya Allah, tanda tanda vitalnya sudah lebih tidak stabil lagi.  Semalam aku masih menyemangati untuk bangun lagi, mengajaknya mengobrol.  Di ranjang sebelah Mama terbaring seorang pria sudah koma selama 15 hari, setiap hari keluarganya datang mengajaknya mengobrol, membawa ustadz untuk mendoakannya.  Kuambil al Quran di atas lemari menyimpanan jas steril ICU, kubacakan surat Yasin dari balik jendela, sementara adikku masih menunggu di ruang tunggu.  Kulihat perawat menutup gordern ranjang mama dan mengelap tubuh beliau.  Saat itu aku bergumam, Mama… Kalau Mama sudah tidak kuat lagi, Mama boleh pergi dengan tenang, kami semua ikhlas jika itu yang terbaik untuk mama.

Bersamaan selesainya surat Yasin yang kubaca, perawat membukakan pintu dan berkata ” Teh, silakan masuk nafas ibu sudah tidak ada tapi detak jantungnya masih ada, silakan kalau mau memanggil keluarganya”.  Tergesa gesa aku mebuka pintu pembatas ICU dan ruang tunggu memanggil adikku dan Papa bersama beberapa adik dan kakak papa.  Bergantian kami meminta maaf, membimbing mama melewati akhir hayatnya dengan tenang, seperti tertidur pulas, tidak ada mata yang terbuka lagi, tidak tangan dan kaki yang bergerak sedikitpun, tidak ada suara apapun dari tenggorokannya… hanya garis lurus di monitor dan pernyataan dokter jaga yangmemastikan kepergian mama selamanya.

Mamaku tercinta, Hj. Yeti Nurhayati, S.Pd  meninggalkan kami untuk selamanya dalam usia 53 tahun 4 bulan, meninggalkan suaminya yang telah menikah selama 29tahun, meninggalkan 3 putrinya dimana 2 diantaranya belum menikah, 1 cucu kesayangan dan kebanggannya, meninggalkan orang tuanya yang masih diberikan umur dan kesehatan di usia 80 tahun lebih, meninggalkan 2 kakak dan 2 adik kandungnya.  Takdir menetapkan Mama yang kembali kepada Allah lebih dahulu.

Ya Rabb..

Ampunilah dosa Mama

Terimalah amal ibadahnya

Jauhkanlah Mama dari siksa kubur dan siksa api neraka

Tempatkanlah mama di tempat-Mu yang terbaik

Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: